Sebuah Puisi. Jakarta
Cukup menghabiskan banyak waktu membaca literatur dan sumber-sumber ilmu yang bisa memberian Saya pengetahuan tentang Jakarta dalam 2 minggu terakhir. Ya, ini Saya lakukan karena salah satu bahan garapan kami di BEM UI tahun ini adalah tentang Pemilihan Gubernur DKI Jakarta.
Sebuah garapan yang butuh keseriusan dan kehati-hatian, karena sedikit saja salah, Saya bisa membayangkan akan dihantam dari berbagai sisi dalam nuansa politik yang sangat kental. Karena Saya bukan seorang betawi, tentu saja pengetahuan betawi Saya sangat lemah dan Saya harus meng-up grade diri jauh lebih keras untuk hal ini. Saya yakin, insyaAllah masih ada waktu :)
Ya, namanya juga belajar :D, selagi masih ada waktu, landjoetkan perdjoeangan.
Iseng-iseng sambil santai kembali skimming salah satu buku favorit Saya, Catatan Harian Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie, Saya menemukan sebuah puisi tentang Jakarta. Walau tak jago berpuisi, menurut Saya puisi ini bagus dan pas, tentang hal yang berusaha dipelajari. Tentang Ibukota negara Indonesia, Jakarta
Saya kira saya ada di Jakarta Kembali
Datang dan bicara dengan manusia-manusia yang saya cintai
Tentang dunia yang semakin tua-atau tanah air yang kelabu
Atau tentang mimpi-mimpi kita (yang tak pernah akan datang)
Aku ingat kembali mata-mata mengantuk di rumah Uno
Jam duabelas malam, dan masih bicara
Tentang pertempuran-pertempuran yang tak bisa kita menangkan
(Aku sendiri tak tahu-mengapa Aku ikut serta)
Saya kira saya terbangun oleh kicau burung-burung gereja
Di pohon kelapa dan mangga dekat tempat tidurku
Atau terbangun karena nyamuk dalam kelambu
Jakarta -
Aku yakin aku cinta padamu
Jalan-jalanmu yang ramai di siang hari
Dan tukang-tukang soto, pohon-pohon asem dan tanjung
Kemarin malam saya pun terbangun dari tidur
Mendengar gemercik hujan yang menderap seperti di rumahku
Aku kira aku di Jakarta kembali
(jam08.00 pagi)
Oh Jakarta, semoga kemegahanmu tak hanya dinikmati mereka-mereka yang menginjak banyak orang lain.
Oh Jakarta, entah ada perubahan dari tahun ini atau tidak, aku tetap percaya, semua rakyat Indonesia masih berharap padamu, untuk menebarkan virus-virus kesejahteraan yang kau punya-sedikit lebih banyak- dari daerah lain.
Oh Jakarta, semoga kami tahun ini juga bisa meredakan sedikit lukamu, hingga akhirnya bersama semua orang Indonesia lainnya, menaklukkanmu.