Sederhana dalam kesederhanaan #spiritOfJava
Alhamdulillah usai dari sebuah perjalanan yang penuh pembelajaran. Sebuah perjalanan menuju Solo untuk mengikuti Rakornas BEM Seluruh Indonesia (BEM SI). Semua serba mendadak dan menuntut kecepatan waktu. Persiapan tak banyak, namun syukurlah apa yang didapat jauh lebih banyak.
Belajar dari Bus Ekonomi
Perjalanan diwali dari Kp.Rambutan naik bus (malam) ekonomi. Subhanallah, pengap sangat. Berada di tengah kerumunan orang-orang, banyak asap rokok, dan bau tubuh tak sedap. Tak ketinggalan suara tangis anak kecil yang minta dibelai Ibunya dan sang Ayah membantu mendiamkan.
Awalnya takut tegur sapa sana-sini, khawatir malah tak baik. Duduk di samping Bapak dengan tubuh kekar, berkalung rantai. Ia asyik mendengar lagu di HP nya.Akhirnya, kuberanikan berkenalan, Dia bernama Simon, pekerja dari Sumatera yang ingin pulang kampung karena natalan. Di samping duduk mahasiswi dari PTS di Jakarta yang juga pulang untuk liburan. Sepasang suami istri duduk di depan dan bermesraan.
Lengkap deh ini Bus! :D
Di Bus ini aku banyak mendengar cerita kehidupan. Dari Pak Simon, dari Mahasiswi dan teman-temannya itu, dan juga dari sepasang suami-istri yang duduk di depanku. Mereka nyaman sekali di Bus yang sumpek ini. Alasan mereka sederhana, bisa menghemat pengeluaran. Sederhana sekali :)
—— Tahukah? Aku menghabiskan 24 jam dari Jkt-Solo. maklum, malam natal, weekend, lengkaplah! Menyambung bus dari terminal satu ke yang lainnya juga memiliki seni tersendiri. Tantangannya adalah kau harus bisa bernegosiasi dengan banyaknya preman dan calo agar tak tertipu. Sebenarnya mereka orang baik, namun tuntutan kerja mereka saja yang begitu ——
Setiba di Solo
Bertemu dengan teman-teman BEM SI, khususnya wilayah Jogloseto (Jogja, Solo, Semarang, “to” nya lupa). Mereka baik-baik. Ramahnya minta ampun. Tak suka bersitegang kalau pendapat berbeda. Pelayanannya pun memuaskan.Pokoknya they serve the best for the others.
Jalanan di sana pun tak ada macetnya. Suasana pagi yang indah. Harga makanan dan minuman yang sangat murah.
Mie ayam+Es teh manis+Kerupuk = 5000
Subhanallah murahnya.
Di sana pun banyak berdiskusi tentang gerakan mahasiswa. Ya, ada perbedaan paradigma antara kawan-kawan mahasiswa tergantung daerah kampusnya. Ada yang cenderung realistis dan idealis. Tapi itulah dinamikanya. Tak tertarik membahas BEM SI di sini, ada forum lain semoga :)
Sempat juga membuktikan bahwa tak mall di Solo. Jajanan lebih bersifat tradisional dan lebih merakyat memang.
Banyak ilmu yang didapat dalam setiap perjalanan. alhamdulillah, walau lelah, bertambah satu jurus dalam hidup yang diajarkan, sederhana dalam kesederhanaan.