karena selama hidup itu kita belajar !

Setiap detik, menit, jam, hari hingga dimensi waktu tertinggi, kita hanya bisa belajar untuk jadi lebih baik. Ya, beruntunglah orang yang lebih baik dari dirinya yang dahulu

Untuk Sang Bapak

Bapak…

Semua dari kita telah berusaha sebaik mungkin untuk menyokongmu dengan cara masing-masing.

Saya pun telah berusaha sebisa saya. Senang rasanya turut berjuang bersama.

Dan mulai esok, sejarah bangsa ini akan diputuskan.

Selamat berjuang, Pak! Semoga Bapak Menang!

:)))

Tulisan lama, tapi rasanya relevan buat yang mau sekolah ke luar negeri

Saat ingin menulis tulisan ini saya teringat kepada sosok Lionel Messi yang merupakan pesepakbola brilian dari Argentina. Messi merumput di Liga Spanyol, bukan di liga Argentina. Hal yang sama juga terjadi pada Cristiano Ronaldo yang menyabet pemain terbaik dunia. Pemain yang dikenal dengan julukan CR7 ini tidak bermain di liga Portugal, walau negara asalnya adalah Portugal. 

Tapi ada satu hal yang menjadi inspirasi saya, yaitu saat mereka pulang untuk membela negaranya, mereka mampu menggerakkan tim sepak bola negaranya menjadi tim yang sangat disegani.Begitulah ide sederhana saya memandang warga Indonesia yang berada di luar negeri—biasa disebut Diaspora Indonesia—khususnya dalam hal ini, pelajar Indonesia

Tentang Diaspora Indonesia

Memang Diaspora Indonesia baru diresmikan pada tahun 2012, namun warga Indonesia yang berjuang di luar negeri sebenarnya sudah ada sedari lama. Bahkan jika kita mencoba mengingat sejarah, Bung Hatta pun berjuang untuk menggapai kemerdekaan sejak menjadi mahasiswa di Belanda. Proses transfer semangat yang terjadi dari luar Indonesia untuk membangun bangsa dapat kita runut sepanjang sejarah kontemporer bangsa ini.

Pada kongres Diaspora Indonesia tahun 2012, Dino Patti Djalal menunturkan, ada sejumlah 6 juta jiwa WNI yang tinggal di luar negeri. Angka ini belum termasuk orang Indonesia yang berstatus WNA dan orang-orang yang tidak terdeteksi. Pada akhirnya kita tak akan pernah tahu berapa jumlah Diaspora Indonesia yang sebenarnya.

Akan tetapi, terlepas dari itu semua, sebenarnya ada pertanyaan lanjutan yang seharusnya sama-sama kita jawab, jika memang jumlah Diaspora Indonesia itu banyak, pertanyaan selanjutnya itu adalah;“Apakah itu cukup mengalir begitu saja?

Tentu saja jumlah diaspora kita masih tertinggal jika dibandingkan dengan China ataupun India. Tapi tetap, orang yang tertinggal selalu ada kesempatan untuk menyusul jika memiliki semangat dan kemauan yang kuat.

Harmoni dalam Sinergi

Untuk menjawab pertanyaan yang saya lemparkan di bagian sebelumnya, saya mengajak kita semua membayangkan sebuah orkestra. Dalam sebuah grup orkestra, setiap orang kaya dengan potensi, karya dan kemampuan. Di sebuah orkestra, ada yang ahli bermain piano, lihai mengharmonikan dawai harpa, dan juga apik dalam memetik senar-senar pada gitar. Namun, semua tak akan berarti apa-apa jika tidak ada yang memandu mereka menghasilkan musik yang mengagumkan. Peran sang pemimpin orkestra sangat vital. Ia tak hanya mengumpulkan para pemain orkestra, tetapi juga menggerakkan para pemain semua sesuai dengan jalurnya menghasilkan harmoni dalam sinergi.

Wadah Diaspora Indonesia tidak cukup hanya menjadi kumpulan orang-orang yang berserikat seperti tempat arisan atau ngopi-ngopi. Pemimpin Diaspora Indonesia, dalam hal ini seharusnya diperankan oleh Pemerintah, pada akhirnya harus mampu menggerakkan setiap elemen yang ada. Pemerintah harus mulai memikirkan untuk mengoptimalkan entitas Diaspora ini dalam upaya turut serta mendorong terjadinya pembangunan. Pemerintah juga mulai memikirkan jika insan-insan penuh karya ini pulang akan dioptimalkan sebagai apa dalam proses pembangunan. Sama seperti tim sepakbola Argentina dan Portugal yang mampu mengoptimalkan kemampuan Messi dan Ronaldo.

Pemerintah harus mulai membuang jauh-jauh pemikiran yang hanya membutuhkan remittance dari Diaspora ke Indonesia. Pemerintahlah yang diaharapkan mampu mejadi pemimpin orkestra dengan narasi besar pembangunan nan menggerakkan. Apa itu menggerakkan? Menggerakkan adalah menjadikan ide-ide terwujud dalam realitas.

Mahasiswa sebagai Diaspora Indonesia

Jika ditanyakan peran yang bisa dilakukan mahasiswa, khususnya mahasiswa Indonesia di luar negeri untuk bangsa, tentu saja jawabannya adalah belajar.

Namun, tentu saja diskusi tentang belajarnya mahasiswa Indonesia di luar negeri tidak hanya selesai pada perkara berangkat ke kelas, duduk mendengarkan kuliah, ikut ujian, disertasi, wisuda, selesai. Yang ada di kepala mahasiswa seharusnya jauh lebih besar daripada hal itu, khususnya mahasiswa sebagai diaspora Indonesia.

Untuk mahasiswa Indonesia yang sedang belajar keluar negeri, tentu saja suka tidak suka memiliki beban “belajar” lebih. Belajar bagaimana negara tempat Ia lanjutkan study dikelola. Belajar bagaimana kampus di tempat Ia menuntut ilmu dibangun hingga menghasilkan pendidikan bermutu tinggi. Singkatnya mahasiswa yang sedang belajar ke luar negeri belajar how to govern-nya pemerintah tempat Ia belajar dalam menjalankan pemerintahannya.

Jika ingin membangun peradaban, sendi-sendi untuk membangunnya harus dikuasai dan ditransfer. Peradaban barat memang ada busuknya, tetapi mereka pintar menutupinya dengan hal yang baik. Hal-hal yang baik inilah yang seharusnya dipelajari oleh mahasiswa Indonesia yang sedang belajar ke luar negeri untuk dikembangkan di Indonesia. Hal ini juga sebelumnya dilakukan oleh orang Eropa dulu dengan renaissance yang mereka pelajari dan pada akhirnya bangkit seperti hari ini.

Mahasiswa: Perjalanan Belajar Tanpa Henti

Terkadang saya sering tersenyum sendiri jika diajak berbicara tentang nasionalisme bangsa. Saat di UK justru saya melihat nasionalisme lebih berkobar dimiliki oleh mahasiswa Indonesia. Pemikirannya sudah jauh dan visioner tentang apa yang akan dilakukan saat kembali ke Indonesia. Walau ada juga beberapa yang berujar tak mau pulang sama sekali, tapi tetap saja mereka memiliki kepedulian dan tetap update dengan informasi tentang bangsa.

Bagi saya, menjadi mahasiswa, khususnya saat studi ke luar negeri belumlah mencapai puncak segala daya upaya. Mahasiswa seringkali terjebak dengan status agen perubahan sosial. Terjebak dalam ilusi yang mematikan untuk tidak berkarya. Sesungguhnya jalan yang harus ditempuh mahasiswa masih sangat panjang dan jauh. Setidaknya pemikiran begini harus senantiasa dijaga. Tentunya pemikiran begini akan semakin tajam dan terasah jika mahasiswa saling berkumpul dan menyatu. Mahasiswa Indonesia di luar negeri bisa memanfaatkan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di setiap negara untuk mencari teman berjuang yang sama untuk membangun bangsa mulai hari ini hingga untuk kemudian hari.

Epilog: Karena Selama Hidup Kita Belajar

Proses belajar adalah proses yang harusnya dijalani oleh siapapun di setiap detik, menit, jam, hari hingga dimensi waktu tertinggi. Setiap dari kita hanya bisa belajar untuk jadi lebih baik. Dan orang terus menjadi lebih baik adalah orang-orang yang beruntung.

Bangsa kita bukanlah bangsa yang baru merdeka. Indonesia adalah bangsa yang besar. Dengan harmoni untuk sinergi yang bisa dijalankan pemerintah, didukung pula oleh mahasiswa yang senantiasa “belajar” lebih dari hari ke hari, perlahan kemajuan Indonesia yang kita cita-citakan pasti tercapai.

Mari tinggalkan perdebatan jika ingin membangun bangsa harus dari dalam negeri saja. Sesungguhnya tidak ada yang salah jika berada di luar negeri dan turut tetap singsikan lengan baju dalam upaya membangun bangsa. Yang salah adalah tidak lakukan apapun dan caci maki saja dari hari ke hari, baik itu di dalam negeri apalagi di luar negeri.

Perubahan merupakan sebuah perjalanan panjang, terjal dan tidak mudah. Lakukan perubahan bukan bagaikan membalikkan telapak tangan, tapi jika ada kemauan, pasti semua bisa diwujudkan.

4000

Wah, saya engga menyangka angkanya mencapai segini (4000 follower dengan 730 post) :)

Dengan isi tulisan yang ga bagus, cupu dan seringkali sekenanya, teman-teman masih mau follow tumblr saya ini. Sekali lagi, makasih banget ya.

Mungkin jumlahnya ga sebanyak temen2 saya yang main tumblr yang lain (maaf norak), tapi kali ini izinkan saya untuk bersyukur dan (yang paling penting) meminta maaf jika ada tulisan yang rasanya tidak pas, menyinggung dan menyakiti hati.

Semoga bukan karena tulisan ini, saya dituntut di pengadilan-Nya karena telah menyakiti seorang  (atau lebih) anak manusia :(

Terimakasih ya sahabat, hingga sejauh ini berkenan menjadi tempat berbagi, pengingat dan juga saling berbagi semangat :)

Semoga kita selalu jadi orang yang terus belajar, terus menerus tanpa henti sampai ajal kita tiba nanti.

Ya, “karena selama hidup kita belajar…" :)

*maaf juga buat yang  ”ask” ga dijawab semua. Terlalu banyak. Sekali lagi maaf ya :)

Ada Indonesia di Ujung Sana

Usai santap sahur kali ini saya tidak bisa tidur. Sebenarnya bukan karena tidak tenang. Mata memejam, namun perasaan pada dunia terus terhubung. Dalam mata terpejam, terpikir apa-apa yang akan terjadi, khususnya untuk tanah dimana saya lahir di bumi ini, Indonesia. 

Setidaknya mulai hari ini, hingga beberapa hari ke depan akan menjadi hari-hari yang menentukan sejarah Indonesia

Tidak berlebihan rasanya jika pemilu kita sebut sebagai media penentuan sejarah itu. Ya, karena pada pemilu kali ini kita akan mendapatkan pemimpin baru. Yang entah siapa, namun yang jelas di sorot matanya seharusnya akan selalu terpampang tulisan “Ada Indonesia di Ujung Sana

Jalan Panjang

Mungkin untuk kesekian kalinya saya menuliskan kalimat serupa yang intinya untuk saling mengingatkan, di dalam hiruk pikuk proses kampanye yang terjadi, jalan untuk Indonesia yang lebih maju masih sangatlah panjang. Proses kampannye memang seru, tapi jalan terjal memimpin saat menang harus siap-siap dihadapi.

Untuk setiap tim sukses, tentu ini tak mudah pula. Karena kandidat pada dasarnya tidak bisa apa-apa tanpa tim sukses, termasuk merealisasikan janji-janjinya. Semoga tim sukses tidak meninggalkan calon yang didukung ketika telah memimpin nanti ya.

Semoga semangat mengingatkan dan mendukung calon yang dikampanyekan ketika menjadi pemimpin jauh lebih kencang dibandingkan masa kampanye calonnya. Aamiin.

Pemerataan Jelang Akselerasi

Setelah menyimak gagasan, mendengar tim sukses, dan menela’ah lebih jauh, saya mengambil sebuah simpulan sederhana, pemerataan Indonesia harus segera dicapai oleh pemimpin Indonesia terpilih nanti. Pemerataan terlebih pada kebutuhan-kebutuhan semua rakyat Indonesia dari Sabang-Merauke. 

Indonesia bukan hanya jawa. Ada puluhan ribu pulau dengan rakyatnya tersebar

Kita tentu tak mau mendengar lagi tentang sulitnya akses pendidikan dan kesehatan di daerah. Kita tentu tak ingin menyimak kekecewaan warga di daerah tentang sulitnya akses listrik dan air bersih. Atau bahkan tentang susahnya mencari sesuap nasi? Pilu rasanya.

Sementara pulau Jawa (Jakarta khususnya) hidup bergelimang dengan fasilitas yang tak bisa didapatkan daerah.

Kepada pemimpin terpilih nanti, saya sangat berharap bisa selesaikan masalah ini terlebih dahulu. Entah bisa selesai dalam 5 tahun atau butuh 10 tahun saya tidak tahu. 

Nanti dulu bicara tentang akselerasi, biar itu menjadi tugas generasi mendatang.

Dan mulai saat ini saya mulai makin sadar tentang estafet pembangunan. Semoga pemimpin terpilih menyadari hal itu. Karena Indonesia ideal di ujung sana yang akan dituju butuh beberapa rentang waktu dan transfer semangat yang berkelanjutan untuk mencapainya. Dan generasi mendatang harus bersiap dari sekarang :)

Momentum

Tahun 2014 ini adalah tahun vital. Titik balik semakin maju atau makin mundur bangsa ini ke depan rasaya akan benar-benar ditentukan tahun ini. Kondisi indonesia hari ini, dengan pertumbuhan ekonominya, junmlah sumber daya manusianya, animo demokrasi, serta masih banyak potensi-potensi kemajuan ke depan menjadikan saat-saat ini adalah momentum kebangkitan indonesia.

Jika Salah jalan dan tak bisa memanfaatkan momentum kali ini, akan sulit membuat indonesia menjadi bangkit. Semoga calon pemimpin ke depan tidak menyia-nyiakan hal ini.

Agaknya tidak berlebihan jika saya berpendapat bahwa momentum tahun ini tidak akan terulang untuk kedua kalinya. 

Rakyat Indonesia rasanya sudah haus dan menanti yang namanya Indonesia yang lebih baik, lebih maju, dan lebih bermartabat. Ya, sesuai dengan “Ada Indonesia di ujung sana" yang sama-sama ingin kita tuju.

Epilog: Bersatu

Terlepas perbedaan pilihan pemimpin yang dipilh di pemilu kali ini, rasanya itu baiknya bukan lagi jadi soal jika sejarah menunjuk pemimpin baru melalui hasil pemilu nanti.

Entah itu pendukung Pak Prabowo, entah itu pendukung Pak Jokowi, bersatulah dan berkolaborasilah. Karena ini akan menjadi sebuah kekuatan yang kuat

Tentu bersatu tetap melakukan proses check and balance. Bersatu mendukung kemajuan-kemajuan yang digagas. Bersatu mengingatkan pemimpin jika salah (tidak apatis). Bersatu untuk siap-siapkan diri melanjutkan estafet perjuangan. Bersatu pula untuk terus menjaga harga diri dan nama baik indonesia.

Hingga, kita bersama dengan sang pemimpin akan sama-sama memiliki semangat yang sama, visi yang sama dan hidup pada jalan yang sama, yaitu…

Bersatu mewujudkan Indonesia (lebih baik yang ada) di ujung sana

—-

London, 5 Juli 2014. Jelang pemilu di United Kingdom

Tentang nyatakan dukungan di Pilpres

Memegang amanah publik engga mudah, termasuk dalam menyatakan dukungan. Semoga bisa terus jaga kehormatan PPI-UK nya :)

Mungkin beda pendapat sama orang-orang yang menggunakan posisi & hal-hal yang melekat pada dirinya untuk nyatakan dukungan. Saya ga bisa :)

Karena saya ga suka sama orang yang mempolitisasi jabatan/organisasi publik & hal yang melekat pada dirinya, maka sy jg tak akan lakukan itu

Ada hal-hal yang melekat pada diri yang harus terus dijaga. Suka atau tidak suka

Cari nasehat itu ga perlu jauh-jauh, simpel. Tinggal ngaca dan kontemplasi dari diri sendiri :)

Masih ingat pesanmu padaku, Abang? (2)

Dulu Abang2 yang bilang, “Jika sudah menjadi pemimpin publik maka lepaskan semua kepentingan golongan. Letakkan publik sebagai prioritas utama”.

Dulu Abang2 juga bilang, “Jangan tebang pilih untuk suarakan yang benar. Pun yang salah dan khilaf itu adalah teman kita”.

Abang2 terus tambahkan dengan semangat, “Apapun yang dikatakan orang untuk menyalahkan yang kita lakukan, selama hati yakin bahwa tidak mendukung kejahatan, maju terus!”.

Dan Abang2 juga yang selalu sampaikan, “Tujuan kita adalah kebaikan. Ya kebaikan untuk banyak orang (bukan hanya untuk golongan kita), yang hal ini pasti diridhoi oleh AllahSWT”.

Dan Abang2 menutup itu semua dengan pesan yang sekali lagi selalu abang sampaikan “Jangan pernah berkhianat!”

Ijinkan Saya menjawab “Makasih Bang nesehatnya. Semoga bukan Abang2 yang menjadi pengkhianat!

Dan semoga saya juga bukan dan tak akan pernah menjadi pengkhianat atas apa yang pernah kita perjuangkan.

Semoga..

Masih ingat pesanmu padaku, Abang?

Teringat dulu Abang2 sering membisikkan “Jangan khianati gerakan mahasiswa, terlebih saat pasca purna periode kepemimpinan”.

Dan Abang2 lanjutkan bisikannya “Hati-hati, perjuangan sebenarnya itu pasca kampus. Banyak yang berbelok berkhianat bertemu realita”.

Ya, begitulah pesan Abang2 yang saya tangkap dan coba jalankan. Apalagi pesan “Jangan khianati gerakan mahasiswa”. Pesan yang mengena..

Semoga kita masih dalam semangat yang sama, Bang! Pun seandainya ada yang berbelok, segera kembali ke jalur. Manusia memang berpotensi berbelok :)

Atau mungkin kita sedang tidak di satu definisi dan kerangka berpikir yang sama? Entahlah. Semoga kita selalu di jalan yg dulu diteriakkan.

Malu sama teriakan “Hidup Mahasiswa dan Hidup Rakyat” yang dulu diteriakkan, jika pada akhirnya di antra kita malah ada yg berkhianat :)

Khianat pada rakyat…

Satu hal yang beratnya berlipat, hanya bisa terdiam menyadari kesalahan dan ketidakmampuan.

Inspirasi dari Debat Cawapres: Pilih Menteri yang Tepat

Entah mengapa saya sangat senang dan bersemangat sekali menonton debat kali ini. Koreksi saya jika salah, rasanya baru kali ini debat cawapres disiarkan dengan topik yang sangat spesifik tentang SDM dan IPTEK.

Sebagai orang yang sedang lanjutkan hidupnya dalam menempuh jalan sains dan teknik, tentu hal ini menjadi sesuatu yang perlu saya simak. 

Karena saya rasanya enggan untuk mengulangi kesalahan yang sama seperti beberapa senior saya

Mengapa saya bisa dan berani beranggapan senior di jalan sains dan teknik lakukan kesalahan? Karena memang saya lihat begitu mayoritasnya. Walau tentu hal ini tidak terjadi pada semua ya! Ada juga yang keren banget. Salah satu contohnya Pak Habibie. Kalau hal ini mau dibahas bisa jadi beberapa seri tulisan lagi. Lain kali saja :)

Tulisan ini tidak panjang-panjang sebenarnya. Yang jelas saya senang pada keberpihakan calon pemimpin bangsa ke depan kepada sektor SDM dan IPTEK. Sektor ini merupakan sektor kunci yang sering terlupa. Setidaknya kita bisa melihat dari poin-poin yang disampaikan oleh kedua cawapres tadi banyak hal baik dan positifnya. (Tentu hal ini juga karena masing-masing kandidat juga didampingi oleh tim yang bagus)

Keberpihakan mereka pada pembangunan SDM dan IPTEK ke depan adalah hal penting, karena selama ini sering terlupa dalam upaya pembangunan bangsa

Apakah dengan berpihak saja bisa berubah? Tentu tidak. Saya sadar sekali hal tersebut tidak seperti membalikkan telapak tangan. Banyak sejarah bangsa maju yang bisa kita simak bahwa mereka membangun IPTEKnya dengan habiskan investasi waktu, uang, dan sumber daya lainnya.

Yang jelas, sebuah gagasan besar memang harus bisa dikonkretkan dengan langkah-langkah yang membuat semuanya menjadi nyata.

Dan untuk para calon pemimpin Indonesia nantinnya saya ingin berpesan (khusus untuk SDM dan IPTEK ke depan),

Pilihlah Mendikbud dan Menristek yang tepat!

View My Stats