Setiap detik, menit, jam, hari hingga dimensi waktu tertinggi, kita hanya bisa belajar untuk jadi lebih baik. Ya, beruntunglah orang yang lebih baik dari dirinya yang dahulu

 

Memang beda: Kedatangan Bu Risma vs Anggota DPR

Saya kira awalnya semua pejabat negara yang pergi ke luar negeri selalu dianggap buang-buang uang. Seperti halnya bagaimana anggota DPR RI yang selalu ditolak “secara halus” (walau tak jarang juga secara kasar) saat kunjungan ke berbagai negara. Kita tentu masih ingat bagaimana teman-teman mahasiswa Indonesia (beserta) warga “mengerjai” anggota DPR yang datang ke luar negeri.

Off the record: *Bahkan tak jarang KBRI sendiri sebenarnya ingin menolak kedatangan anggota DPR.

Namun, pejabat negara yang satu ini memang beda. Kehadirannya dinanti dan antusiasme warga menyala ketika dikabarkan beliau akan datang ke Inggris. Responnya sangat jauh berbeda jika dibandingkan respon info datangnya anggota DPR. Semua orang ingin sekali hadir dan berjumpa dengannya. Ya pejabat negara nan sederhana itu bernama Bu Risma, walikota Surabaya.

Bu Risma insyaAllah akan berbagi dengan WNI di UK hari kamis ini. Beliau datang karena menerima penghargaan yang (entah untuk keberapa kalinya) sebagai walikota terbaik di level internasional. Ibu yang satu ini memang terkenal dengan kinerjanya membangun kota.

Well, memang pada akhirnya orang yang bekerja dengan baik, benar dan berikan perubahan nyata akan dinanti kehadirannya. Tentu ini berbeda dengan orang yang kinerjanya ga jelas dan ga nyata.

Memang beda: Kedatangan Bu Risma vs Anggota DPR

Saya kira awalnya semua pejabat negara yang pergi ke luar negeri selalu dianggap buang-buang uang. Seperti halnya bagaimana anggota DPR RI yang selalu ditolak “secara halus” (walau tak jarang juga secara kasar) saat kunjungan ke berbagai negara. Kita tentu masih ingat bagaimana teman-teman mahasiswa Indonesia (beserta) warga “mengerjai” anggota DPR yang datang ke luar negeri.

Off the record: *Bahkan tak jarang KBRI sendiri sebenarnya ingin menolak kedatangan anggota DPR.

Namun, pejabat negara yang satu ini memang beda. Kehadirannya dinanti dan antusiasme warga menyala ketika dikabarkan beliau akan datang ke Inggris. Responnya sangat jauh berbeda jika dibandingkan respon info datangnya anggota DPR. Semua orang ingin sekali hadir dan berjumpa dengannya. Ya pejabat negara nan sederhana itu bernama Bu Risma, walikota Surabaya.

Bu Risma insyaAllah akan berbagi dengan WNI di UK hari kamis ini. Beliau datang karena menerima penghargaan yang (entah untuk keberapa kalinya) sebagai walikota terbaik di level internasional. Ibu yang satu ini memang terkenal dengan kinerjanya membangun kota.

Well, memang pada akhirnya orang yang bekerja dengan baik, benar dan berikan perubahan nyata akan dinanti kehadirannya. Tentu ini berbeda dengan orang yang kinerjanya ga jelas dan ga nyata.

Tak Habis Pikir

Kadang aku bingung, mengapa seringkali kau sebut mereka bagai orang yang dimanfaatkan.

Tak jarang pula aku sulit memahami, saat kau sebut mereka sebagai orang yang diperalat.

Dan hampir habis pula akalku saat kau hina aktivitas mereka sebagai sesuatu yang tak berguna.

Tulisan ini aku buat bukan sebagai sebuah pembenaran. Tulisan ini aku buat juga bukan untuk membuat kau berubah pikiran. Tulisan ini pun aku buat bukan untuk pembelaan. Aku pun tak tahu mengapa tulisan ini pada akhirnya aku ketikkan.

Karena..

Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri mereka yang berjuang dengan penuh ketulusan. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana mereka juga terjun ke lapangan, habis-habisan, bahkan tak jarang hingga habis badan. Aku pun melihat mereka, mempersingkat waktu untuk leha-leha, pun hanya untuk sekedar menyantap makanan. Aku pun menyaksikan, senyum yang kadang dipaksakan saat bertubi-tubi kau lancarkan hinaan.

Untuk wilayah UK khususnya, kau kira mudah untuk keluarkan waktu untuk bepergian? Untuk tujuan mengajarkan kebaikan, bahkan kurangi waktu belajar menjadi taruhan. Tak usah kau perhitungkan kelelahan, tak berlaku bagi mereka jika itu kau ucapkan. Mereka sudah lupa. Belum lagi mereka yang berjuang di daerah2 terpencil, mungkin tak sedikit bagian tubuhnya sudah kapalan.

Dan, mereka tak pernah merasa sholeh sendirian. Serta tak mau pula masuk surga sendirian. Mereka ingin sekali mengajak saudara/i sekalian.

Mereka norak? Memang, tak jarang aku pun melihat demikian. Tapi tak sadarkah jika itu hal yang biasa bagi orang yang memiliki pilihan?.

Mereka cacat? Jelas, mereka manusia biasa, bukan kumpulan malaikat tanpa cela.

Aku tidak akan membalas cacian kalian pada mereka dengan cacian pula, karena itu berarti sama saja kan?

Yang aku tak mengerti mengapa kalian begitu bisa-bisanya nyatakan mereka dengan istilah yang rasanya tak pantas diucapkan, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya lah, diperalat atasan lah, dibodoh-bodohi pemimpin lah, atau banyak hinaan lainnya.

Aku hanya sedih, dan berlanjut khawatir..

Karena nantinya yang namanya ketulusan menjadi sesuatu yang mahal dilakukan oleh orang kebanyakan, apalagi jika ingin mengajak ke arah kebaikan. Entahlah, semoga kekhawatiran itu hanya aku yang rasakan, tidak akan pernah kejadian.

Oh ya.. Mereka toh sebenarnya menerima kritikan, tapi sampaikan pula lah dengan cara-cara yang sopan.

Kecuali kau memang bukan lancarkan kritik untuk kebaikan, tapi serangan untuk menghancurkan. Itu beda cerita. Mereka pasti berupaya untuk bertahan.

Ilusi Predikat

Akan sampai pada suatu masa, bahwa rangking dan peringkat kampus tempat mu study bukanlah sesuatu yang berarti bagimu.

Karena yang jauh lebih berarti bagimu adalah ilmu (penelitian) apa yang kan kau dalami, karya apa yang kan kau buat dan aksi nyata ke masyarakat apa yang kan kau lakukan.

Sesuatu yang tampak besar dari luar, belum tentu besar pula isi di dalamnya. Pun sebaliknya untuk sesuatu yang kecil..

Saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dalam pemilihan umum kali ini. 

Kamu?

Saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dalam pemilihan umum kali ini.

Kamu?

Ini adalah tulisan saya tentang evaluasi 10 tahun Pak Presiden SBY. Tulisan ini dimuat di majalah Jong Indonesia yang digagas teman-teman warga Indonesia di Belanda.

Versi lengkap majalahnya bisa dibuka di tautan berikut: http://issuu.com/majalahjong/docs/jongindonesia_ii_iv_2014

Ini adalah tulisan saya tentang evaluasi 10 tahun Pak Presiden SBY. Tulisan ini dimuat di majalah Jong Indonesia yang digagas teman-teman warga Indonesia di Belanda.

Versi lengkap majalahnya bisa dibuka di tautan berikut: http://issuu.com/majalahjong/docs/jongindonesia_ii_iv_2014

Be Patient, good boy!

Seharusnya cerita ini saya tulis 2 minggu yang lalu, saat tema “Rising Asia" begitu hangat ditemui di kampus. Tapi karena terlalu sering bergulat di lab dan persiapan ujian, akhirnya baru sekarang sempat dituliskan. Tak apa, mumpung kepala sedang "ngebul", rehat sejenak dengan menulis…

Publishing and Patent in Asia

Salah satu indikator inovasi sebuah bangsa itu bisa dilihat dari jumlah paper yang dihasilkan oleh para peneliti di negara tersebut. Selain jumlah paper juga ada paten/hak cipta yang dikukuhkan sebagai wujud dari kecerdasan intelektual.

2 minggu lalu, kampus menerima kunjungan dari sebuah perusahaan tempat jurnal-jurnal internasional diproduksi, dan mereka melakukan review jumlah tulisan yang masuk dari setiap negara ke penulisnya. Sebuah data yang mencolok menunjukkan bahwa jumlah penelitian di Asia yang dimuat di jurnal internasional mulai bergerak naik mendekati publikasi Eropa dan USA. Hal ini terjadi khususnya di Cina dan Korea Selatan.

Memang data ini sangat subjektif, belum tentu penerbit lain menunjukkan data yang sama. Akan tetapi, sang presentator pun mengamini bahwa memang hal ini bisa menjadi nyata di kemudian hari. Bahkan beberapa jurnal ditulis dengan bahasa mandarin belakangan mulai banyak beredar. “someday, maybe we should learn Mandarin”, he said.

Jika melirik tentang patent, Indonesia hanya 0.1% dibandingkan China dan 0.2% dibandingkan Korea dalam jumlah patent nya yang ada di USA. Itu fakta

Company from Asia

Selain kunjungan dari penerbit, juga ada presentasi dari sebuah perusahaan dari Jepang, tentang perkembangan perusahaannya hingga hari ini dalam mendukung penelitian tentang material. Perusahaan tersebut memproduksi polimer.

Dengan bahasa Inggris yang sangat secukupnya, tetap saja perusahaan Jepang tersebut keren dalam capaian-capaian yang telah mereka buat. Mereka menggambarkan bagaimana mereka memulai merintis perusahaan dari NOL dan dalam waktu sebentar sudah menjadi sebuah perusahaan besar.

Sang presentator pun berujar, kami hanya salah satu dari banyaknya perusahaan lain di Jepang yang berkembang sangat pesat. Sebuah pernyataan bernada ancaman heh?!

Bagaimana Indonesia?

Negara-negara di Asia memang semakin maju, apalagi China. Dengan GDP yang besar dan dengan banyaknya data-data yang menunjukkan betapa “mengerikannya” China dan negara Asia lain seperti Korea Selatan, India, Jepang dan tidak ketinggalan Singapura, membuat saya geram saat mendengarkan 2 presentasi di atas.

Pikiran saya tentu saja langsung ke “Indonesia dimana?

Kadang saya mempertanyakan prediksi yang banyak beredar yang menyatakan indonesia akan menjadi maju dalam beberapa dekade ke depan. Apa benar itu McKinsey? Jika berkaca dan jujur, apakah yakin hal itu akan nyata? Bukannya underestimate, tapi memang tidak ada yang namanya langkah signifikan yang sepertinya akan dilakukan.

Dan saat kedua presentasi tersebut berlangsung, saya duduk di sebelah supervisor. Dan di moment dipaparkannya data kemajuan Asia (tanpa Indonesia tentunya), saya bergumam pada supervisor, sebuah perasaan yang seringkali saya rasakan.

"I am trapped here.. While my country is still lagging behind"

Supervisor saya hanya menatap saya dengan tersenyum, sambil menepuk pundak saya dan berujar,

"Be patient, good boy!"

Saya tidak tahu maknanya apa kata-kata di atas dari sang supervisor. Yang jelas seringkali dia berujar demikian.

Entahlah, semoga saja prediksi yang ada bahwa Indonesia akan jadi negara besar di tahun dua ribu sekian itu benar. Semoga saya salah. Semoga kita semua tidak delusional.

Mau Ujian

Mau Ujian

Pusing? Iya

Panik? Iya

Teliti bagi waktu? Iya

Istirahat berkurang? Iya

Main berkurang? Iya

Harus banyak baca buku? Iya

Strees? Dikit.

Tertekan? Dikit

——

Nyerah? Ga!

Ga boleh nyerah! Bismillah! :)

Oxford vs Cambridge?

Well, apalah arti semua ini.

Pelan-pelan kami mulai menemukan bagaimana cara mengelola PPI UK ini. Ya dengan eksperimen yang tentunya ada salah kami selalu perbaiki performa dan kinerja kami dari hari ke hari.

Dengan tim yang semakin apik, didukung oleh PPI Cabang se-UK yang juga makin berkembang, serta juga mahasiswa INA di UK yang keren2, membuat organisasi yang bernama PPI di UK ini makin dewasa.
Ya, PPI UK terus tumbuh menjadi besar lagi dan lagi dari hari ke hari.

Banyak juga calon mahasiswa yang cemerlang-cemerlang yang akan datang ke UK tahun ini.
PPI UK harus disiapkan, agar mereka semua teroptimalkan.
UK akan jadi poros baru tempat berkuliah dan gagasan-gagasan mulai dibangun.

Ayo semua ke UK! PPI nya makin keren. Hehe :)

#UntukIndonesia

View My Stats Online Users
Open Cbox